Apa saja Sunnah-Sunnah seputar Adzan dan Iqomat ?

Ada beberapa sunnah yang selayaknya bagi kita menghidupkannya dikarenakan masih banyak di antara manusia yang melalaikannya. Kami sebutkan sebagian diantaranya:

1. Lafadz Adzan Ketika Hujan
Ketika ada hujan atau angin kencang yang sekiranya memberatkan jama’ah untuk berangkat ke masjid, maka disyariatkan bagi mu’adzin untuk mengatakan “ala sholluu fii rihalikum” yang artinya sholatlah di rumah-rumah kalian.


Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar pernah adzan pada suatu malam yang dingin dan berangin, lalu mengatakan: Sholatlah di rumah-rumah kalian. Kemudian dia mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan mu’adzin apabila malam yang dingin dan hujan untuk mengatakan: Sholatkan di rumah-rumah kalian.” HR.al-Bukhari 666 dan Muslim 697

Timbul sebuah pertanyaan, kapankah mengucapkannya?! Dalam hal ini ada perselisihan: ada yang mengatakan setelah lafadz Asyhadu anna Muhammad Rasulullah sebagai ganti Hayya ‘alash sholah, ada yang mengatakan setelah Hayya ‘alal falah, ada yang mengatakan setelah usai adzan atau setelah lafadz Laa Ilaaha Illallah. Pendapat yang benar bahwa semuanya boleh karena semuanya ada dalilnya. Syarh Muslim oleh an-Nawawi 5/207

2. Adzan Bagi Orang yangShalat Sendirian
Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang shohih. Diantaranya:
“Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Robbmu merasa takjub terhadap seorang penggembala kambing di puncak gunung, Dia adzan dan mengerjakan shalat. Maka Allah berfirman: Lihatlah hamba-Ku ini, dia mengumandangkan adzan dan shalat karena takut kepada-Ku. Sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku ini dan memasukkannya ke surga.” HR.Abu Dawud 1203, an-Nasa’i 664, Ahmad 4/145, 157, 158 dan dishohihkan al-Albani dalam Irwa’ul Gholil no.214dan Silsilah ash-Shohihah no.41

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah dalam bab fiqih yang disunnahkannya adzan bagi orang yang shalat sendirian. Itulah bab yang dibuat oleh Imam an Nasa’i rahimahullah mengenai hal ini. Dan sungguh telah datang perintah untuk beradzan dan iqomat dalam sebagian jalan hadits musi’ sholat (orang yang jelek shalatnya). Maka tidak selayaknya bagi muslim untuk meremehkan perkara tersebut.” Silsilah Ahadits ash-Shohihah no.41


3. Jarak Antara Adzan dan Iqomat
Hendaknya ada jarak antara adzan dan iqomat agar jama’ah memiliki waktu untuk persiapan berupa wudhu, berjalan kemasjid, buang air dan sebagainya. Jangan setelah adzan langsung dikumandangkan iqomat. Kalau langsung iqomat tanpa jeda waktu, lantas apa faedahnya adzan?

Ingatlah bahwa kebanyakan orang tidak berangkat ke masjid kecuali setelah mendengar adzan.
Imam al-Bukhari membuat bab dalam Shohihnya “Berapa jarak antara adzan dan iqomat?” Lalu beliau membawakan hadits Abdullah bin Mughoffal: “Antara dua adzan adalah shalat.” HR.al-Bukhari 601
Hadits ini menjelaskan bahwa hendaknya di sana ada jarak antara adzan dan iqomat, sehingga seseorang bisa melakukan shalat sunnah terlebih dahulu.

Ibnu Bathol rahimahullah menukil dari sebagian fuqoha’ bahwa jarak antara keduanya tidak ada batasan tertentu, yang penting adalah berkumpulnya jama’ah shalat. Syarh al-Bukhari 2/252 Tentunya hal ini berbeda-beda antara masjid dengan masjid lainnya, antara waktu shalat Subuh dan Maghrib misalnya, semuanya disesuaikan dengan kondisi jama’ah.

4. Mengucapkan Sebagaimana Yang Diucapkan Oleh Mu’adzin
Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri:
“Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila kalian mendengarkan adzan maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan mu’adzin.“ HR.Muslim 383

Hadits ini bersifat umum, tetapi telah shohih pengecualian dalam dua hal “hayya alash sholat” dan “hayya alal falah” dengan menjawab “La haula wa la quwata illa billah“, sebagaimana dalam hadits Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu. HR.Muslim 385

Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk menjawab adzan. Maka hendaknya bagi kita untuk menghidupkan sunnah yang banyak dilalaikan kaum muslimin ini. Aduhai, alangkah indahnya bila kita meniru para ulama dan orang-orang sholih dahulu. al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menceritakan dari Ibnu Juraij, dia berkata: “Saya mendapat cerita bahwa manusia (pada zamannya) mendengarkan mu’adzin, seperti mendengarkan bacaan, setiap para mu’adzin mengucapkan suatu kata mereka menirukannya.” Fathul Bari 2/109

baca juga: bantuan buka puasa santri mahad annur padang sidimpuan

 5. Membaca Dzikir Setelah Syahadat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dari Rasulullah berkata: Barangsiapa yang berkata ketika mendengar mu’adzin: [asyhadu anla ilaaha illallah wahdahu la syarikalahu wa anna muhammadin ‘abduhu wa rasuluh, radhiitu billahi rabba wabi muhammadin rasuula wabii islami diina] Saya Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah saja tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya, saya ridho Allah sebagai Rabbku dan Muhammad sebagai nabiku dan Islam sebagai agamaku, maka diampuni dosanya.“ HR.Muslim 386

Saudaraku, hidupkanlah sunnah yang hampir mati ini, semoga Allah azza wa jalla melipatgandakan pahala bagimu Lihat al-Washiyyah bi Ba’dhi Sunan Syibhil Mansiyyah hal.52-53 oleh Haifa’ binti Abdullah ar-Rosyid.

Adapun letaknya, para ulama berselisih apakah setelah syahadat ataukah setelah usai adzan. Kita berharap masalahnya mudah yakni boleh kedua-duanya. Hanya saja dalam riwayat Abu Awanah: 1/283-284 dijelaskan bahwa letaknya setelah syahadat sehingga hal itu lebih diutamakan.
Apa saja Sunnah-Sunnah seputar Adzan dan Iqomat


6. Bersholawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu: “Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila kalian mendengarkan adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan mu’adzin kemudian bersholawatlah kepadaku. Karena barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah karena itu adalah tempat disurga yang tidak layak kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan saya berharap sayalah yang mendapatkannya, maka barangsiapa yang memintakan untukku wasilah niscaya halal syafa’at baginya." 


Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini ada tiga sunnah yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu menjawab adzan, sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam usai menjawab dan memintakan wasilah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Anehnya, engkau perhatikan sebagian orang yang meremehkan sunnah-sunnah ini adalah orang yang sangat fanatik memperjuangankan bid’ahnya sholawat mu’adzin secara keras usai adzan, padahal hal tersebut merupakan kebid’ahan dalam ajaran islam dengan kesepakatan ulama. Kalau mereka melakukan hal itu dengan alasan cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas kenapakah mereka tidak menghidupkan sunnah ini dan meninggalkan bid’ah tersebut?!. Kita memohon hidayah.” Ta’liq Fadhlush Sholah ‘ala Nabi hal.49-50

Sumber: alqiyamah dinukil ulang oleh admin kumpulankonsultasi.com, ditulis oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah

artikel baru hari ini :

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

pengen dialog santai, silahkan inbox kami. syukron

cari artikel ?. ketik dibawah ini