Apa manhaj aqidah imam asy-syafii mengenai sifat al-istiwa (bersemayam) diatas arsy ?

Diantara kaum muslimin terutama di indonesia sangat akrab di telinga mereka atas nama imam syafii terutama dalam hal fiqh bahkan ada yang menamai anak-anak mereka dengan nama imam syafii, suatu nilai positif namun sangat disayangkan, banyak kaum muslimin tidak mengetahui hakikat akan aqidah imam syafii, ditambah lagi beberapa hari lalu adanya sedikit dialog admin dengan orang yang mengaku aqidah ahlu sunnah dan melabelkan diri satu manhaj dengan syafii. Allahu akbar

Benarkah allah berada dimana-mana ?

Pada artikel ini admin akan mengupas pembahasan mengenai sifat istiwa yang ditetapkan imam syafii, Sifat istiwa adalah sifat fi’liyah (perbuatan) yang benar bagi Allah azza wa jalla. Dalam al-qur’an, sifat ini dicantumkan pada 7 ayat:sungguh, Rabbmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy...” Al-a’raf[7]: 54

sesungguhnya Rabb kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali setelah ada izin-Nya....” Yunus[10]: 3

Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan....” Ar-ra’d[13]: 2 

(yaitu) yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” Thaha: 5

yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) yang maha pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad)." Al-furqan[25]: 59

Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafa’at selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?As-sajdah[32]: 4

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di man saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.” Al-hadid[57]: 4

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan tentang bersemayamnya Allah di atas Arsy-Nya, sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, setelah menciptakan langit dan bumi. Dia bersemayam dengan suatu persemayaman yang sesuai dengan keaguangan dan kebesaranNya.

Demikian pula di dalam as-Sunnah, terdapat cukup banyak hadits yang menetapkan persemayaman ini, diantaranya:

إنّ الله لمّا قضى الخلقَ كتبَ عنده فوق عرشه إنّ رحمتي سبقتْ غضيْ
“sesungguhnya Allah, tatkala selesai menciptakan ciptaanNya, Dia menulis di sisi-Nya di atas ‘Asry-Nya: ‘sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-ku.’” (HR.Bukhari  dalam kitab “at-tauhid” [IV/2751] dan Muslim dalam kitab “at-taubah” [IV/2107])

إنّ في الجنة مائةَ درجةٍ أعدّها الله للمجاهدين في سبيله كلَّ درجتَين ما بين السماء والأرض فإنْ سألتُمُ الله فسئلوْه الفردوسَ فإنه أوسطُ الجنةِ وأعلى الجنّةِ وفوقه عرشُ الرحمن ومنه تفجّر أنهار الجنّة
“sesungguhnya di dalam syurga ada 100 derajat (tingkatan) yang disiapkan oleh Allah untuk mujahidin fi sabilillah. Jarak antara 2 derajat itu seperti (jarak) antara langit dan bumi. Maka jika kamu meminta kepada Allah, mintalah kepada-Nya syurga firdaus karena syurga itu paling tengah dan tinggi, sedangkan di atasnya Arsy rahman (tempat singgasana allah), dan darinya mengalir sungai-sungai surga.” (HR.Bukhari)

Ibnu khuzaimah berkata dalam komentarnya tentang hadits ini: “kabar ini menjelaskan bahwa ‘Arsy-Nya Rabb kita berada di atas syurga-Nya dan Dia telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Jadi, pencipta kita berada di atas ‘Arsy-Nya yang terletak di atas Syurga-Nya.” Cukup banyak hadits yang memiliki pengertian seperti ini. (lihat kitab at-tauhid karya Ibnu khuzaimahv(I/231-289), Ijma’ul Juyusy al-Islamiyyah (48-61), dan Mukhtasharul ‘Uluw karya adz-Dzahabi (81), dan lainnya.)

Ahlu sunnah wal jama’ah percaya kepada sejumlah nash ini dan memberlakukannya sesuai dengan zhahirnya yang disertai dengan keyakinan terhadap apa yang diterangkannya, berupa penetapan sifat istiwa’ bagi allah sebagaimana yang layak bagi-Nya. manhaj aqidah imam asy-syafii mengenai sifat al-istiwa (bersemayam) diatas arsy

Imamnya para imam, yaitu Ibnu khuzaimah rahimahullah, menjelaskan: “kita beriman kepada kabar Allah jalla wa ‘ala bawa pencipta kita bersemayam di atas Arsy-Nya. Kita tidak mengubah kalam allah dan tidak mengatakan selain apa yang dikatakan kepada kita, tidak seperti kaum Mu’athtilah Jahmiyyah yang berkata: ‘sesungguhnya Dia berkuasa atas ‘Arsy-Nya, bukan bersemayam.’
Jadi, mereka mengganti dengan perkataan lain di luar apa yang dikatakan kepada mereka seperti apa yang dilakukan oleh kaum yahudi manakala mereka diperintahkan supaya mengatakan hiththa, tetapi mereka mengatakan hinthah sehingga menyalahi perintah Allah ta’ala, demikianlah pula dengan kelompok Jahmiyyah.” (At-tauhid karya Ibnu Khuzaimah[I/231]) ini manhaj aqidah imam asy-syafii mengenai sifat al-istiwa (bersemayam) diatas arsy

Kalangan salaf telah sepakat bahwa Allah ta’ala bersemayam di atas ‘Arsy-Nya dan tidak ada sesuatu apa pun yang bersembuny dari-Nya di antara perbuatan-perbuatan mereka. Sementara atsar yang memuat keterangan tentang hal ini, baik yang berasal dari kalangan Sahabat, Tabi’in, maupun para imam pendahulu, banyak sekali jumlahnya.

Di antaranya ialah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, beliau mengatakan: “Arsy di atas air, sedangkan Allah diatas Arsy, bagi-Nya tidak ada yang tersembunyi atas semua perbuatanmu.” (Adz-dzahabi berkata dalam al-‘uluw: “Diriwayatkan oleh Abdullah bin imam Ahmad dalam as-sunnah serta Abu bakar bin al-Mundzir, Abu Ahmad al-‘asal dan al-Lalika-i, al-Baihaqi, dan Ibnu Abdil al-Barr dalam buku-buku mereka dengan sanad shahih [103])

Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dengan sanadnya dari al-Auza’i ia berkata: “adalah kami, banyak sekali kalangan Tabi’in, mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya dan kami beriman kepada keterangan yang disampaikan oleh as-Sunnah yang memuat tentang sifat-sifat-Nya.” (Al-Asma’ wash shifaat[515]. Dishahihkan oleh syaikhul islam dalam al-Fatawa (V/39) manhaj aqidah imam asy-syafii mengenai sifat al-istiwa (bersemayam) diatas arsy

Di antara cerita yang paling populer tentang masalah ini adalah apa yang diriwayatkan dari imam malik. Suatu saat ia ditanya tentang firman Allah: “Rabb yang maha pemurah bersemayam di atas ‘Arsy.” Bagaimana dia bersemayam? Imam malik menjawab: “bersemayam-Nya bisa dipahami, tetapi bagaimana Dia bersemayam tidak diketahui. Adapun pertanyaanmu tentang soal ini adalah bid’ah, dan sepertinya aku melihatmu sebagai orang yang tidak baik.” (syarh ushul i’tiqad ahlus sunnah [III/398], ‘Aqidatu as-salaf karya ash-Shabuni[17], ibnu abdi al-Barr dalam Tamhid [VII/138], Ibnu Abi Zaid al-qirwani dalam risalah-nya adz-dzhahabi dalam al-Uluw[103], dan Ijma’ul Juyusy al-Islamiyyah[75]. Riwayat-riwayat tersebut telah dikumpulkan oleh Dr. Abdu Ar-Razzaq bin Abdu al-Muhsin al-Badr.)

baca juga: bidah hasanah

Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “pendapat bahwa Allah di atas ‘Arsy adalah pendapat yang disepakati oleh para Nabi seluruhnya, dan itu disebutkan dalam setiap kitab yang diturunkan kepada setiap nabi yang diutus sebagai Rasul. Soal itu telah disepakati pula oleh generasi pendahulu dari umat ini serta oleh kalangan imam mereka dari semua golongan.” (Naqhdu at-Ta’sis[II/9)

Dalam menafsirkan kata istiwa, kalangan salaf mempunyai 4 ungkapan:
1. Al-‘Uluw (ketinggian)
2. Al-Irtifa (meninggi)
3. As-Su’ud (naik)
4. Al-Istiqrar (menetap)

Ibnu qoyyim rahimahullah berkata tentang hal itu:
Mereka memiliki empat ungkapan tentangnya Telah dimiliki oleh prajurit berkuda yang banyak menikam.Yaitu, istiqra, ‘ala dan demikian juga irtifa’a yang tidak ada padanya penolakn/pengingkaran.Demikian pula sha’ida menjadi keempat. Sementara Abu Ubaidah sahabat asy-syaibani, memilih pendapat ini di dalam tafsirnya yang lebih mengetahui daripada al-jahmi tentang al-qur’an.(An-Nuniyyah dengan syarh al-Harras [I/215]) manhaj aqidah imam asy-syafii mengenai sifat al-istiwa (bersemayam) diatas arsy

Abu Ubaidah sahabat asy-syaibani adalah nama aslinya Ma’mar bin al-matsna at-tamimi merupakan budak mereka seorang ahli nahwu, ahli bahasa dan temannya Imam Ahmad. Seorang yang sangat jujur, wafat tahun 208 H. (Lihat kitab at-Taqrib[II/266-3])


Ini semua menjelaskan posisi mazhab salaf tentang iman kepada sifat-sifat Allah ta’ala. Mereka meyakini bahwa sifat-sifat ini memiliki arti yang layak bagi Allah ta’ala, bukan hanya sekedar kata-kata yang kering, kaku, dan tidak ada pengetahuan pada dirinya tentang mazhab salaf, sementara mereka menduga bahwa itulah mazhab salaf.

Kesimpulannya bahwa kalangan salaf beriman kepada sifat ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan persemayaman-Nya di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang layak bagi keagungan-Nya.

Di antara keterangan yang diriwayatkan dari imam asy-Syafi’i tentang hal ini adalah apa yang disebutkan oleh adz-Dzhahabi di dalam kitab al-‘Uluw, ia berkata: “diriwayatkan oleh syaikhul islam Abu al-Hasan al-Hakari dan al-Hafidzh Abu Muhammad al-Maqdisi melalui sanad mereka yang sampai kepada Abu Tsaur dan Abi Syu’aib, keduanya dari Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, seorang pembela hadits, ia berkata: pendapatku tentang sunnah adalah aku berpegang kepadanya, dan juga berpegang kepadanya orang-orang yang aku lihat, misalnya sufyan, Malik dll. Yaitu pengakuan terhadap persaksian bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah, serta Allah itu di atas ‘Arsy-Nya yang ada di langit-Nya. dalil yang menunjukkan bahwa manhaj aqidah imam asy-syafii mengenai sifat al-istiwa (bersemayam) Allah diatas arsy

baca juga: rasyid hafidz belajar otodidak

Dia mendekat kepada makhluk-Nya menurut apa yang Dia kehendaki dan turun kelangit terendah menurut apa yang Dia kehendaki.’” Maka beliau pun menyebutkan seluruh i’tiqad (aqidah dan keyakinan lainnya). (mukhtasharul ‘Uluw [176]. Disebutkan oleh Ibnu qoyyim dari riwayat Abdurrahman bin abi Hatim dari Abu Tsaur dan Abu Syu’aib dalam Ijma’ul Juyusy al-Islamiyyah[94]. Lihat juga: Majmu Fatawa[IV/181] dan ‘aunul ma’bud [XIII/41 dan 47])

Syaikhul islam ibnu taimiyyah mengatakan: “Asy-Syafi’i berkata: ‘kekhalifahan Abu bakar ash-Shiddiq adalah haq (benar), yang telah diputuskan Allah dari atas langit-Nya, dan Dia telah menghimpun hati hamba-hamba-Nya kepada Abu bakar as-Shiddiq.’”

Kemudian, ia menambahkan: “kalaulah dikumpulkan apa-apa yang dikatakan oleh asy-Syafi’i dalam masalah ini, niscaya padanya terdapat keterangan yang memadai/mencukupi.” (majmu fatawa[V/139], al-Atsar fi Aqidati al-Hafidz abdul Muqhni al-Maqhdisi[47], dan dalam Ijma’ul Juyusy al-Islamiyyah[95])
manhaj aqidah imam asy-syafii mengenai sifat al-istiwa (bersemayam) diatas arsy
bedaya.tv
Sebagai dalil ‘uluw (ketinggian) Allah ta’ala, Imam asy-Syafi’i berpegang kepada kabar Mu’awiyah bin al-Hakam seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu, kabar yang menceritakan bahwa ia hendak memerdekakan seorang budak wanitanya, tetapi budak tersebu diuji dulu oleh Nabi untuk diketahui apakah dia beriman atau tidak.Nabi berkata kepadanya: “di mana Allah?”Maka budak itu mengisyaratkan ke langit.Nabi bertanya lagi: “siapa aku?”Ia menjawab: “Rasulullah.”Lantas, Nabi pun memerintahkan: “merdekakanlah, karena dia adalah mu’minah.”

Jadi, Rasulullah memutuskan keimanan budak wanita tersebut ketika mengakui bahwa Rabbnya di langit dan dia tahu tentang Rabbnya melalu sifat ‘uluw dan fauqiyah (diatas). (al-Umm[V/280], Majmu’ Fatawa’[v/192], ash-shawa’iq al-Mursalah[IV/130] dan al-Manaqib karya al-Baihaqi[1/394-398])

baca juga: istrimu bukan bidadari

al-Baihaqi menyebutkan: “penyebutan dalil-dalil yang menerangkan istiwa-nya Allah tabaraka wa ta’ala di atas ‘Arsy-Nya dan atsar-atsar yang berasal dari kalangan salaf yang memiliki pengertian seperti ini banyak jumlahnya, dan jalan ini menunjukkan kepada madzhab asy-Syafi’i. (al-Asma’ wa ash Shifat[517] dan fat-hul Bari [XIII/407])

demikianlah beberapa keterangan yang menunjukkan tentang keyakinan asy-Syafi’i rahimahullah bahwa ia beriman kepad segala sesuatu yang disifatkan oleh Allah untuk diri-Nya dan kepada apa-apa yang disifatkan oleh Rasulu-Nya sesuai dengan keyakinan mazhab salaf.

Keterangan-keterangan ini menunjukkan tentang keimanannya kepada sifat-sifat berikut, yaitu al’uluw (ketinggian) dan istiwa’ (bersemayam) sesuai dengan metode generasi salaf.

Sumber referensi: manhajul aqidah al-imam asy-syafi’i fii itsba’til aqidah (manhaj aqidah imam asy-syafi’i) ditulis oleh DR. Muhammad bin abdil wahhab al-a’qil staf bagian pengajaran universitas islam madinah al-munawwarah cetakan ketujuh rajab 1435 H/mei 2014 M, penerbit pustaka imam asy-syafi’i, Hal.402, diterjemahkan oleh H. Nabhani Idris, Saefudin Zuhri, ditulis ulang oleh Atri yuanda al-pariamany admin situs dakwah kumpulankonsultasi.com

posting ini bermanfaat? bantu kami dengan klik like/share, syukron

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

artikel baru hari ini :

cari artikel ?. ketik dibawah ini