antara kecerdasan dan keikhlasan, yang manakah jadi tolak ukur

Dalam menuntut ilmu agama, bukan kecerdasan yang menjadi tolak ukur, tetapi keikhlasan.


Washil bin Atho', dahulu termasuk murid Hasan Al Bashri yang cerdas. Tapi pada akhirnya, dia menjadi tokoh mu'tazilah, yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar di dunia statusnya antara kafir dan iman, namun di akhirat kekal di neraka. Mereka juga tidak meyakini sifat2 Allah, dan mengingkari campur tangan Allah dalam hal perbuatan manusia (seperti akidah kaum Qodariyah)..

Jahm bin Sofwan dikenal orang yang cerdas dan pandai berdebat. Tapi dia ternyata pendiri firqoh sesat Jahmiyah, yang mengingkari sifat Allah 'azzawajalla.

Arnold Jonh Wensink, pengarang kitab Al- Mu’jam Al- Mufahras li Alfadh Al-Hadits An-Nabawi, ternyata seorang orientalis kafir..

Mereka semua orang yang cerdas. Tapi apa manfaatnya kecerdasan saat tak ada kebeningan hati.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata,

أعطوا ذكاء ولم يؤتوا زكاء
Mereka dikaruniai kecerdasan, akan tetapi tidak diberi kebersihan hati..

sumber: achmed
_____________________________
dapatkan pesan dakwah harian di inbox whatsapp anda

Cara daftar
Ketik nama#usia#asal daerah kemudian kirim ke no whatsapp kami ini 0821 6826 4963

Simpan no whatsapp kami dgn nama "1hari 1ilmu"

Jadilah anda petunjuk jalan dan dapatkan setiap kebaikan dari orang yg anda ajak
yuk, subcribe juga channel youtube jalan hidayah

Portal share artikel ustadz dan ulama sunnah
bantu kami share info ini

dibawah ini, posting terbaru kami di twitter "yuk baca and share"

cari artikel ?. ketik dibawah ini