hukum makanan pada acara tahlilan, halal ataukah haram? yuk share

Tolong jelaskan masalah pelaksanaan tahlilan (pesta kematian). Bagaimana hukum makanan tersebut, halal ataukah haram?


Jawaban.
Tentang tahlilan (pesta kematian) telah terjawab di atas. Hal itu termasuk bid’ah dan maksiat. Adapun makanannya, jika berupa daging, maka sebaiknya ditinggalkan. Karena, dikhawatirkan termasuk binatang yang disembelih untuk selain Allah. Adapun selain dagingnya, maka halal. Namun bagi orang yang mengetahui dan melihat kemungkaran, dia wajib untuk mengingkari dan menjelasakannya, agar tidak disangka bahwa diamnya dan pengambilannya itu merupakan dalil tentang bolehnya kegiatan tersebut.

Mirip dengan ini, yaitu makanan atau benda yang dijadikan sesaji untuk berhala. Syaikh Muhammad Hamid Al Fiqi rahimahullah mengatakan:

“Dan demikian juga setiap makanan, minuman, atau lainnya yang disebut nama (Allah), karena untuk nadzar atau qurbah (mendekatkan diri, yaitu sesaji) untuk selain Allah (hukumnya sama dengan binatang yang disembelih untuk selain Allah). Maka seluruh makanan yang dibuat untuk dibagikan kepada orang-orang yang i’tikaf (semedi, tirakat) di dekat kubur-kubur atau thaghut-thaghut, atas namanya atau berkatnya, itu termasuk kategori yang disembelih untuk selain Allah”.

Menanggapi pernyataan Syaikh Muhammad Hamid Al Fiqi rahimahullah, maka Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah memberikan komentar :

“Dalam masalah ini terdapat perincian. Jika yang dimaksudkan dengan hal itu, bahwa perbuatan itu termasuk syirik, karena itu merupakan ibadah dan qurbah untuk selain Allah, maka ini benar.… Adapun jika maksud Syaikh Hamid bahwa uang, makanan, minuman, hewan hidup yang disajikan oleh pemiliknya untuk para nabi, para wali dan selain mereka, haram diambil dan dimanfaatkan, maka ini tidak benar. Karena itu merupakan harta yang dapat dimanfaatkan.

Pemiliknya sudah tidak menyukainya, dan itu tidak masuk pada hukum bangkai, maka pastilah itu mubah bagi orang yang mengambilnya. Sebagaimana seluruh harta-harta yang ditinggalkan oleh pemiliknya bagi orang yang menghendakinya. Seperti tangkai-tangkai (gandum, padi) yang ditinggalkan oleh para petani atau kurma yang ditinggalkan oleh para pemanennya untuk orang-orang miskin.

Dibolehkannya hal itu dengan dalil, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil harta-harta simpanan pada (berhala) Laata dan menggunakannya untuk membayar hutang ‘Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang harta itu dipersembahkan untuk Laata sebagai halangan dari mengambilnya ketika berkuasa terhadapnya. Namun merupakan kewajiban bagi orang yang melihat orang -dari kalangan orang-orang yang bodoh dan orang-orang musyrik- yang melakukannya untuk mengingkarinya dan menjelaskan kepadanya bahwa hal itu termasuk syirik.

Sehingga tidak disangka bahwa diamnya dari pengingkaran dan pengambilannya dari barang itu –jika dia mengambil sesuatu darinya- merupakan dalil tentang kebolehannya. dan bolehnya taqarrub dengannya kepada selain Allah. Dan karena syirik merupakan sebesar-besarnya kemungkaran, maka wajib mengingkari terhadap orang yang melakukannya.

Tetapi, jika makanan itu terbuat dari daging-daging sembelihan orang-orang musyrik, atau dari lemaknya, atau kuahnya, maka itu haram. Karena penyembelihan mereka termasuk hukum bangkai, sehingga daging-daging itu haram, dan makanan yang bercampur dengannya menjadi najis. Berbeda dengan roti dan semacamnya, selama tidak tercampuri sesuatu dari sembelihan orang-orang musyrik, maka itu halal bagi orang yang mengambilnya. Demikian juga uang dan semacamnya, sebagaimana telah terdahulu. Wallahu a’lam”.
hukum makanan pada acara tahlilan, halal ataukah haram? yuk share

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus /Tahun VIII/1427H/2006M. Rubrik Soa-Jawab, Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]

artikel baru hari ini :

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

pengen dialog santai, silahkan inbox kami. syukron

cari artikel ?. ketik dibawah ini