ungkapan "seterah takdir" apakah dibolehkan dalam syariat islam?

Saya pernah mendengar beberapa kisah dan cerita sastra ringkas dibeberapa makalah surat kabar ungkapan: "Terserah zhuruf (keadaan) atau takdir saja?" Apa ungkapan semacam itu dibolehkan?"

jawaban
Al-Hamdulillah. Ungkapan semacam itu tidak pantas diucapkan. Karena kondisi dan takdir tidak memiliki kehendaki. Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin -Rahimahullah-- pernah ditanya tentang hal itu. Beliau menjawab: ""Terserah zhuruf (keadaan) atau takdir saja," itu termasuk ungkapan yang mungkar, karena kata zhuruf adalah bentuk plural (jamak) yang arti sebenarnya adalah waktu.

Sementara waktu itu tidak memiliki kehendak. Demikian juga kata aqdaar yang merupakan jamak qadr (takdir), juga tidak memiliki kehendak apa-apa. Memang, kalau seseorang mengatakan: "Sudah menjadi takdir Allah demikian, yang berkehendak adalah Allah, maka itu tidak apa-apa. Adapun keinginan, tidak boleh dinisbatkan kepada takdir. Karena keinginan itu adalah kehendak, bukan karakter, akan tetapi justru memiliki karakter.
ungkapan "seterah takdir" apakah dibolehkan dalam syariat islam?
Majmu' Al-Fatawa wa Rasaa-il III : 131-132
Lihat kitab Al-Iman Bil Qadha Wal Qadr oleh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd hal. 147.
sumber: islamqa

artikel baru hari ini :

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

pengen dialog santai, silahkan inbox kami. syukron

cari artikel ?. ketik dibawah ini