wafatnya Siyono adalah Kejahatan Tingkat Tinggi ungkap Pengamat Terorisme

Pengamat Terorisme Mustofa B. Nahrawardaya
Pengamat Terorisme Mustofa B. Nahrawardaya
Kematian Siyono (39), warga Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten yang tewas saat ditangkap pasukan Densus 88 jelas menyisakan banyak pertanyaan. Penyebab kematian korban dianggap perlu segera diusut.

Menurut pengamat terorisme, Mustofa B Nahrawardaya, berdasarkan saksi di TKP, korban dijemput paksa oleh Densus 88 pada Selasa (08/03) dalam kondisi sehat wal afiat tanpa sakit tanpa luka. Korban dijemput setelah Shalat Maghrib di Mesjid dekat rumah.

Polisi lalu menyampaikan keterangan resmi bila korban telah tewas. Alasan korban tewas, menurut Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto, adalah karena kelelahan setelah berkelahi dengan Densus 88 di dalam mobil.

"Tentu saya tidak mudah percaya dengan perubahan karakter Densus 88 yang tiba-tiba menjadi tidak ganas. Selama ini, semua orang juga tahu akan keganasan Densus 88 saat bekerja. Tidak ada ceritanya, ada terduga yang dapat lolos dari kawalan Densus. Setelah ditangkap dengan cara kasar, biasanya terduga langsung diborgol, dilakban mukanya. Bahkan, kaki dan tangan terduga, 100% tidak mungkin dapat bergerak bebas, karena memborgol kaki dan tangan adalah standard baku mereka," ujar Mustofa melalui pernyataannya yang diterima Suara Islam Online, Ahad (13/3/2016).


Jadi, kata dia, kalau sampai ada terduga lepas dari kawalan, apalagi berani melawan Densus seperti Siyono ini sebuah fenomena baru. "Boro-boro berkelahi. Terduga menggerakkan tangan saja, kemungkinan sudah ditembak mati karena dianggap melawan," ungkapnya.

Jelas ini adalah kejahatan extra ordinary crime. Kejahatan tingkat tinggi, yang resiko dari kejahatannya dapat membunuh banyak orang, jelas Mustofa yang juga pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah ini.

"Maka dari itu, kebiasaan Densus, adalah bermain keras dan ganas —jika tidak mau saya sebut kejam. Densus sering memberlakukan diskresi. Korban dari pengadilan di luar Gedung Pengadilan juga sudah banyak," ungkapnya.

Atas kejahatan Densus tersebut, ia juga mendesak agar dilakukan pengusutan serius terhadap operasi Densus ini. "Jika perlu, dilakukan audit total terhadap satuan khusus anti terorisme ini," tandas Mustofa. [suara-islam]
Powered by Blogger.