jangan baca "kisah bakti uwais al-qarni kepada ibunya, sangat mengharukan"

Bukan tanpa alasan Uwais Al-Qarni diasingkan dari pergaulan. Selain miskin, Uwais juga terjangkit penyakit Vitiligio. Bercak bercak putih menutupi sebagian kulit tubuhnya. Ibu Uwais pun lumpuh. Miskin, penyakitan, dan tinggal bersama ibu tua lumpuh. Lengkaplah alasan bagi warga desa untuk menjauhi Uwais.

Suatu ketika, sang ibu menyampaikan keinginannya menunaikan ibadah haji dan melengkapi rukun Islam. Uwais tinggal di Yaman, 600 kilometer dari Mekkah. Kemiskinan dan keterbatasan tidak menyurutkan semangatnya untuk berbakti kepada sang ibu. Ia ingin sekali saja membahagiakan ibunya sebelum ajal lebih dulu menjemput. Uwais sang penggembala Kambing memutar otak.

Dia kemudian membeli seekor anak lembu dan membangun kandang di atas bukit. Setiap hari, dia menggendong anak lembu itu naik turun bukit untuk memberinya makan dan kemudian mengembalikannya ke kandangnya di ketinggian. Tak terhitung cacian dan hinaan yang diterimanya karena dianggap gila. Hanya penggembala lembu gila yang setiap hari menggendong piaraannya naik turun bukit.
Kemiskinan telah melatih Uwais untuk bersabar dan bekerja keras. Dalam waktu 8 bulan, berat lembu itu telah bertambah hingga 100 kilogram. Dan otot-otot Uwais telah terbiasa untuk mengangkat beban berat.

Dengan penuh kasih sayang Uwais menyatakan siap untuk menggendong sang ibu menunaikan ibadah haji. Sedangkan lembu yang telah beranjak dewasa dipakainya untuk mengangkut bekal perjalanan melintasi ratusan kilometer dari Yaman menuju Mekkah. Tangis bahagia ibunya melunturkan rasa kecewa karena gagal membahagiakan sang ibu yang hidup serba terbatas dan kekurangan.

Setelah kembali ke Yaman, ibunya bertanya:
”Uwais, apa yang kamu doakan sepanjang kamu berada di Mekkah?”
Uwais Al-Qarni menjawab: “Saya berdoa minta supaya Allah mengampuni semua dosa-dosa ibu”.
“Bagaimana pula dengan dosa kamu?” Tanya ibunya

’’Dengan diampuninya dosa ibu maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ibu ridho dengan saya maka saya juga akan masuk surga,’’ jawab Uwais.

Bakti Uwais pada sang ibu membuatnya disebut oleh Rasulullah SAW sebagai salah seorang yang doanya makbul. Rasululah berpesan agar Sayyidina Umar RA dan Sayyidina Ali RA mencari Uwais untuk memohonkan ampun atas dosa beliau berdua.


Kisah Uwais menggambarkan betapa kemiskinan selalu menyediakan kesempatan untuk memaksimalkan potensi manusia. Keterbatasan memaksa Uwais untuk kreatif. Niat tulus dan rasa ingin berbakti memotivasinya untuk menjalani hidup dengan cerdik. Kemiskinan berbicara dengan bahasanya sendiri yang tidak semua orang bisa memahami.

Bahasa kemiskinan adalah bahasa bertahan hidup dan bekerja keras. Memaksimalkan apa yang ada untuk tetap menjalani kehidupan yang kadarnya sama dengan orang kebanyakan. Lalu siapakah kita sehingga merasa berhak menilai seseorang dari apa yang mereka miliki?

(Zulham Mubarak/pp)

posting ini bermanfaat? bantu kami dengan klik like/share, syukron

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

artikel baru hari ini :

cari artikel ?. ketik dibawah ini