Ketua Dewan Adat Akui Miras adalah Salah Satu Pemicu tidak Damainya Papua

Jayapura - Ketua Dewan Adat Daerah Paniai, Jhon NR Gobai berpendapat, minuman keras adalah salah satu pemicu Papua tidak damai, sehingga segenap elemen masyarakat harus mendukung kebijakan Pemprov Papua terkait pelarangan peredaran minuman keras.

koleksi minuman keras
"Di Papua telah ditetapkan sebagai zona damai, dan pada 7 - 9 Juli 2011 telah dilaksanakan konferensi perdamaian di Papua, semua visinya adalah tanah Papua yang damai," katanya di Kota Jayapura, Papua, Kamis (13/4/2016).

Menurut dia, semua pihak harus jujur bahwa miras adalah salah satu pemicu Papua tidak damai, agar bisa damai, maka semua pihak dituntut untuk bisa memberikan dukungan pelarangan peredaran miras.

Apalagi dengan merenung dan menghayati kata-kata bijak dari Mahatma Gandhi yakni 'apakah arti hidup anda jika tidak banyak memberi manfaat kepada orang lain dan jadilah kamu manusia yang ketika lahir semua orang tertawa karena bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum'.

"Mari kita semua menyatakan rasa solidaritas dengan bergabung dan mendukung, baik secara moril dan materil dalam solidaritas anti minuman beralkohol, untuk melakukan advokasi dan mengajak semua pihak agar memberikan pilihan terkait dengan pilihan menyelamatkan/mendapatkan uang atau manusia," katanya.

Orang Papua bisa mengenal miras dan mendapatkannya di toko-toko hingga kios-kios kecil, karena awalnya dikenalkan oleh kaum asing (misionaris Belanda), namun kemudian Pemerintah Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol dan Peraturan Mentri Perdagangan No.15/M-DAG/Per/3/2006 tentang pengawasan dan pengendalian impor, pengedaran dan penjualan dan perijinan minuman beralkohol.

"Dua keputusan ini kemudian dijadikan dasar untuk dibuat peraturan daerah di kabupaten/kota dan provinsi di Papua atau daerah lainnya di Indonesia. Contohnya, Peraturan Daerah Kabupaten Nabire No 6 Tahun 2006 dan diganti dengan Perda yang isinya pelarangan pemasokan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol," katanya.

Jhon mengakui, selama ini masyarakat beranggapan bila miras adalah obat untuk memberikan rasa tenang kalau lagi stress, minuman untuk membuat orang menjadi berani berbicara dan bertindak dan minuman beralkohol adalah minuman untuk penghangat badan di tempat yang dingin.

"Nah, kehadiran minuman beralkohol juga merupakan sebuah rejeki bagi oknum aparat. Rejeki karena harganya mahal, sehingga masyarakat senang menjual barang ini dapat memberikan untung yang besar, pemerintah juga terima, pemasok minuman juga dapat menunjang berbagai kegiatan di Papua," katanya.

Padahal, lanjut Jhon, minuman beralkohol merupakan ancaman bagi generasi Papua yang ada sekarang dan juga generasi yang akan datang akan menjadi pecandu alkohol, sering kali menjadi pemicu pertengkaran dan juga terjadi media yang sangat manjur untuk melakukan pembalasan dendam antarmasyarakat.

"Dengan minuman beralkohol dalam keluarga seringkali suatu persoalan sepele bisa berakhir dengan penyelesaian yang rumit dan berbuntut panjang, sehingga terjadi KDRT, sering terjadi penganiayaan dalam masyarakat yang mengakibatkan luka ringan, luka berat bahkan kehilangan nyawa, bahkan perang suku dan antarkelompok atau kampung," katanya.

Untuk itu, kata Jhon, sudah sepantasnya semua pemangku kepentingan secara bersama-sama menolak minuman beralkohol masuk dan beredar di Papua.


"Semua pihak baik pemerintah, DPRP, tokoh masyarakat, tokoh Agama, tokoh perempuan dan tokoh pemuda haruslah memilih, mana lebih penting, uang dan penerimaan daerah, atau menyelematkan manusia, generasi penerus masyarakay Papua. Yang artinya Perdasi/Perdasus tentang namanya pelarangan pemasokan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol di Papua harus berjalan," katanya.

Untuk melaksanakan itu, Jhon menyarankan Gubernur Papua Lukas Enembe segera menyurat Menperindag agar peraturan menteri yang menjadi dasar hukum pemasokan dinyatakan tidak berlaku di Papua, kemudian membentuk tim pengawasan minuman beralkohol independen di Papua.

"Para pengusaha atau pemasok minuman beralkohol diarahkan untuk mengerjakan proyek yang lain. Para pecandu alkohol direhabilitasi dan diberdayakan," katanya.

sumber repost: suara-islam.com

artikel baru hari ini :

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

pengen dialog santai, silahkan inbox kami. syukron

cari artikel ?. ketik dibawah ini