PILIHAN ALLAH YANG TERBAIK: pelajaran berharga dari kehidupan nabi yusuf

Yang terbaik adalah pilihan Allāh, الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ ( al khayr khīratullāh)

Sesunguhnya yang lebih mengetahui tentang kemaslahatan kita adalah Pencipta kita. Dialah yang telah menciptakan kita dan mengetahui apa yang terbaik buat kita. Yang mengetahui hal yang ghāib tentang masa depan, Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita terkadang berencana, bercita-cita, menurut perasaan & perkiraan kita, ada sesuatu yang kita anggap terbaik bagi kita sehingga kita berusaha untuk meraihnya. Namun setelah berusaha ternyata gagal, tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita yang membuyarkan cita-cita kita. Namun ingatlah teman-teman yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Jika seorang hamba telah berusaha dan telah berdo'a, maka yakinlah apa yang Allāh takdirkan itulah yang terbaik bagi dia. Kenapa?

الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ
" Yang terbaik adalah yang pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qurān :

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memberikan beberapa contoh dalam Al-Qurān tentang pilihan Allāh adalah yang terbaik yang terkadang di luar imajinasi, perkiraan atau khayalan kita. Contohnya seperti kisah Nabi Yūsuf 'alayhissalām.
surat yusuf 7-10

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan dalam Al-Qurān tentang kisah Nabi Yūsuf yang sangat luar biasa. Kisah Nabi Yūsuf yang penuh dengan perkara yang menakjubkan. Bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan anugerah kepada Nabi Yūsuf dalam bentuk ujian-ujian. Oleh karenanya kata para ulama, terkadang Allāh berikan anugrah & karunia dalam bentuk ujian. Dan ini yang pernah dialami oleh Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Kita tahu bagaimana Nabi Yūsuf akhirnya menjadi seorang Al-'Azīz, seorang mentri yang mulia, yang dimuliakan, yang dihormati oleh penduduk negri Mesir. Bagaimana ceritanya Nabi Yūsuf 'alayhissalām bisa menjadi seorang yang mulia? Ternyata dengan berbagai macam ujian. Dari awal ujian Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah sebutkan dalam kisah Surat Yūsuf.

•Ujian Pertama•


Tatkala saudara-saudara Nabi Yūsuf hasad kepada Nabi Yūsuf, kemudian mereka melemparkan ke dalam sumur, ini ujian pertama, namun Nabi Yusuf sabar menghadapinya. Dipisahkan dari ayahnya, Nabi Ya'qūb 'alayhissalām yang sangat mencintai Nabi Yūsuf. Sehingga membuat sedih sang ayah dan juga Nabi Yūsuf 'alayhissalām. Ayah yang mencintai, mengayomi dan membelanya selama ini harus terpisah dari dia, diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dilemparkan ke dalam sumur. Tapi ternyata ini adalah anugerah tetapi memang ceritanya harus berupa ujian-ujian .

• Ujian Kedua •

Kemudian yang kedua, setelah itu Nabi Yūsuf diselamatkan oleh orang yang datang dan lewat ingin mengambil air dari sumur, mereka melihat Nabi Yusuf. Bukannya Nabi Yusuf diselamatkan kemudian dibebaskan, malah dijadikan budak untuk dijual. Bayangkan, seorang yang merdeka dijadikan budak, jadi barang dagangan untuk dijual. Ini musibah kedua yang dialami Nabi Yūsuf 'alayhissalām. Akan tetapi ternyata, justru tatkala Nabi Yūsuf menjadi budak inilah merupakan langkah menuju kebahagiaan. Nabi Yūsuf dibeli oleh pembesar negri Mesir, kemudian dirawat di istana mereka, akhirnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.

• Ujian Ketiga •


Kemudian Nabi Yūsuf dirayu oleh sang permaisuri yang mengajaknya berzina. Nabi Yūsuf 'alayhissalām menolak dan akhirnya dipenjara, ini ujian berikutnya. Bayangkan, ujian setelah ujian. Nabi Yūsuf bersabar dalam penjara tersebut dan tidak lama kemudian datanglah dua orang yang ingin ditafsirkan mimpinya. Setelah menafsirkan mimpi ke-2 orang tersebut, kemudian Nabi Yūsuf mengatakan bahwa salah satunya akan dibunuh dan yang lain akan selamat akan menjadi pelayan sang raja dan akan menuangkan minuman bagi sang raja. Kemudian, kata Nabi Yusuf kepada salah seorang penghuni penjara yang menurut beliau akan selamat:

"Jangan lupa kau sebut-sebut kebaikanku di sisi tuanmu (raja)." (QS. Yūsuf : 42)

Apa maksud Nabi Yūsuf 'alayhissalām? Agar jika sang raja tahu bahwasanya Nabi Yūsuf adalah seorang yang shālih yang bisa menafsirkan mimpi maka Nabi Yūsuf akan dibebaskan dari penjara. Akan tetapi apa kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

"Maka syaithān menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yūsuf) kepada tuannya." (QS. Yūsuf : 42)

Ternyata Allāh mentaqdirkan lain, orang yang telah selamat ini lupa untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi Yūsuf di sisi sang raja. Akhirnya bertambah lagi bertahun-tahun Nabi Yūsuf harus dipenjarakan karena orang itu lupa. Subhanallāh, ini musibah dan ditambah dengan musibah, karena kelupaan orang tersebut. Akan tetapi ternyata Allāh punya skenario/cerita yang lain, ternyata kelupaan orang ini adalah anugerah. Sampai kapan? Sampai akhirnya sang raja sendiri yang bermimpi.

Di dalam mimpinya, dia melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan ada sunbulat (bulir gandum) yang kering dan sunbulat yang hijau. Sang raja akhirnya bertanya: "Siapakah yang bisa menfasirkan mimpiku?" Ternyata tidak ada yang mampu. Tatkala itu ingatlah pelayan raja yang telah dibebaskan dari penjara.

"Aku akan memberitakan kepadamu tentang|orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)." (QS. Yūsuf : 45)

Ternyata Allāh menjadikan orang ini baru ingat tatkala sang raja yang bermimpi langsung. Maka kemudian Nabi Yūsuf 'alayhissalām menafsirkan mimpi sang raja, baru ketahuanlah bahwa Nabi Yūsuf 'alayhissalām adalah orang yang hebat. Maka akhirnya Nabi Yūsuf diangkat menjadi seorang mentri yang mulia. Lihatlah berbagai macam ujian yang dihadapi Nabi Yūsuf, ternyata semua itu kesimpulannya adalah anugrah/karunia. 

Allāh ingin mengangkat Nabi Yūsuf menjadi seorang raja, bahkan bukan cuma itu, akhirnya Nabi Yūsuf bisa mendatangkan ayah dan keluarganya untuk dipindahkan ke Mesir, dari kehidupan yang sulit menjadi kehidupan yang lapang. Ini adalah anugerah yang luar biasa, akan tetapi ceritanya tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak semua anugerah datang dalam keadaan penuh kenikmatan.

Anugrah yang dialami oleh Nabi Yūsuf ternyata malah melewati berbagai macam ujian. Oleh karenanya, jika kita terkena musibah dan jika kita sudah berusaha dan berdo'a ternyata ada sesuatu hal yang membuyarkan cita-cita kita, tidak sesuai dengan keinginan kita, maka yakinlah bahwa di balik segala sesuatu pasti ada hikmahnya.

Terkadang hikmah tersebut Allāh buka seketika itu juga atau terkadang setelah bertahun-tahun atau bahkan terkadang tersembunyi tidak ada yang tahu, hanya Allāh akan tampakkan di akhirat kelak. Allāh menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.

"Al-khayr khīratullāh", yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Hanya sekedar ilustrasi, kita tidak tahu tentang kebenaran kisah ini. Tentang seorang raja dengan seorang menteri. Menterinya ini senantiasa berkata:
الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ
"Al-khayr khīratullāh", yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Setiap ada orang yang terkena musibah maka diapun mendatangi dan menasihati dengan mengatakan: "Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Suatu saat sang raja terkena musibah, jarinya terpotong (terputus). Maka datanglah sang menteri dengan penuh semangat mengatakan: "Wahai Sang Raja, yang terbaik adalah pilihan Allāh, jarimu yang terputus itu adalah yang terbaik."

Maka sang raja pun tersinggung dan marah, dia mengatakan: "Jari saya putus ini yang terbaik? Penjarakan orang ini."

Akhirnya sang menteri pun dipenjarakan. Tatkala sang menteri dipenjara dengan mudah dia berkata, "Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Ternyata benar. Suatu saat sang raja keluar bersama anak buahnya dalam rangka berburu atau suatu keperluan. Mereka terjebak pergi ke tempat yang jauh dan ditangkap oleh orang-orang penyembah dewa atau ruh. Kemudian mereka disembelih satu persatu untuk tumbal bagi tuhan mereka. Ketika giliran sang raja mereka dapati jarinya putus, cacat, dan mereka mengatakan bahwa orang ini tidak pantas untuk diserahkan bagi dewa mereka. 

Akhirnya dibebaskanlah sang raja dan tatkala itu sang raja pun sadar bahwa yang dikatakan sang mentri betul. Jari yang putus merupakan kebahagiaan, anugrah, sehingga ia tidak jadi dibunuh. Dia pulang dengan begitu semangat kemudian membebaskan sang menteri dan berkata: "Benar perkataanmu, yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Namun sang raja bertanya: "Kenapa kau (menteri) ketika dipenjara mengatakan bahwa yang terbaik adalah pilihan Allāh? Apa kebaikan engkau dipenjara?"

Kata sang menteri: "Seandainya saya tidak dipenjara maka saya pun akan berburu dengan engkau, ditangkap dan akan disembelih oleh mereka, oleh karenanya saya dipenjara adalah yang terbaik."

Demikianlah, semoga kita senantiasa berhusnuzhan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Setelah kita berusaha dan berdo'a, yakinlah bahwa segala ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah yang terbaik.

repost by owner kumpulankonsultasi.com

artikel baru hari ini :

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

pengen dialog santai, silahkan inbox kami. syukron

cari artikel ?. ketik dibawah ini