Psikologi massa dan politik pelumpuhan, Inilah pentingnya "the power of people"

Pasti bnyak orang yang heran, kesel, kecewa, marah, dan berbagai perasaan dongkol terhadap sikap jokowi, dalam menghadapi aksi kemarin. Jokowi juga dianggap, pengecut, dan menghina ulama dan ummat saat dia kabur dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin negara.
Inilah pentingnya "the power of people"

Mumpung, pisau analisa baru diasah, pengen nulis nih.

Kenapa jokowi memilih kabur dengan alasan blusukan dibanding menghadapi aksi massa? Dan kembali ke istana setelah kondusif, lalu menggelar rapat malam hari dengan bbrapa pejabat terkait.
Bukan karena agenda penting saat blusukan, juga bukan semata2 takut menghadapi massa. Tapi ada agenda tersembunyi dibalik sikapnya.

Jokowi dan orang2 yang dibelakangnya, memanfaatkan psikologi massa untuk melumpuhkan perjuangan ummat islam. 

Masa sih?
Pertama, psikologi massa yang ada di kerumunan (crowd) punya peluang rusuh tatkala bahan bakar habis. Teorinya, massa dibuat lelah dan lapar, hingga berpengaruh secara psikologis pada emosinya. Massa telah seharian aksi, namun, penguasa tidak segera merespon. Dialun dengan lambat, dan terakhir dihadapkan dengan kekecewaan. Jelas, ini skenario untuk membuat massa rusuh, marah, sehingga mudah di monsterisasi, dialihkan isunya, dibunuh karakternya, bahkan bisa jadi alasan dihukum secara legal dengan kekerasan aparat.

Itulah, sebabnya kerusuhan terjadi setelah maghrib. Massa yang sudah panas, mudah disusupi penyusup dari kalangan musuh yang bikin rusuh. Padahal, selama siang sampai sore, penyusup selalu tertangkap. 

Lalu, bekerjalah para penyebar opini, haters, dan musuh2 islam. melalui media, terus melakukan pengalihan isu, pembunuhan karakter ulama dan umat islam, bahkan monsterisasi perjuangan mereka. 

Cocok dengan narasi yang sudah dibuat sebelum aksi dilakukan.

Kedua, jokowi dan elit2 yang menguasainya, berupaya melakukan pembungkaman suara ummat.
Caranya, sikap cuek, penghinaan, dan tidak peduli, pada ulama dan ummat yang aksi, sekaligus cuek terhadap tuntutan ummat. Hal ini ditujukan untuk melemahkan semangat ulama dan ummat. 2juta jiwa lebih pserta aksi tak dihiraukan. Seolah dua juta orang tiada berarti bagi jokowi dan penguasanya. 

Bagi sebagian orang, hal ini akan menimbulkan sikap apatis dan pasrah. Logikanya, sudah sebanyak ini orang yang nuntut, pemerintah tak bergeming, ya udahlah, capek aksi melulu.

CAPEK, lelah, dan segala jenisnya bisa membuat orang berhenti berjuang. Apalagi ketika perjuangan dilakukan dalam jangka waktu lama dan mengeluarkan biaya.

Capek ini juga yang bisa membuat orang akan bersikap pragmatis, "ya udahlah, biarin aja, biar Allah yang mengazabnya". 

Dengan kata lain, perjuangan berhenti.
Bagi yang masih semangat berjuang, nanti akan ada skenario ketiga, kanalisasi dan stigmatisasi. Disalurkan pada kelompok tertentu buatan musuh (yang kelompoknya disamarkan sebagai kelompok islam), lalu, dilabeli kelompok radikal, ekstrem, dll. Oiya, kelompok yang masih semangat dan benar pun dimonsterisasi dan dipukul rata dengan kelompok radikal buatan mereka.

Walhasil, terjadi pembungkaman dan penghentian perjuangan.

Sebagai gambaran, Barat, musuh2 islam yang dikomandoi AS, telah melakukan politik pembungkaman perjuangan ummat islam menegakkan islam di Suriah, dengan memanfaatkn psikologi masyarakat.

Barat melakukan siyasatu tauzi'iy atau politik penglaparan. Ummat islam dibiarkan menderita, kelaparan, dibombardir, untuk menekan psikologis mereka agar menyerah, berhenti berjuang. Dan mengikuti rancangan AS dan sekutunya.

Tentu, sebagian orang yang tidak kuat, akan berhenti berjuang dan mengikuti rancangan AS.
Di sisi lain, barat melakukan monsterisasi terhadap perjuangan penegakan khilafah dan monsterisasi khilafah dengan membentuk ISIS. Sebagian umat yang semangat berjuang tanpa berpegang pada mabda, tertarik untuk ikut ISIS, dan tidak berjuang untuk khilafah yang sebenarnya. 

Kelompok yang ikhlas dan benar pun distigmatisasi dengan istilah radikal dan ekstrem, dan dilekatkan pada ISIS, Al qaidah, dll. 

Targetnya, opini khilafah monster, perjuangan islam dan pejuang nya adalah teroris dan ekstremis. Menakuti masyarakat dengan label itu, hingga ummat menjauhinya. Dan membuat legalitas pembungkaman dengan dalih againts terrorism n ekstremism.

Suriah adalah contoh pemanfaatn psikologis massa, dan pembungkaman perjuangan. Namun, Allah Maha Kuasa, perjuangan di sana tetap berlangsung melallui tangan2 ummat yang ikhlas dan berpegang teguh thariqoh perjuangan Rasul. Seraya selalu meminta pertolongan Allah. Walaupun jumlahnya tidak sampai jutaan.

Inilah pentingnya "the power of people" bukan people power. Why????

People power, adalah kekuatan massa. Yang diandalkan jumlah massa. Betul, bisa berpengaruh, namun sampai kapan amunisi power nya bisa bertahan? Lalu, sekedar jumlah, dengan beragam pemikiran, kepentingan dan perasaan tidak menjadi kekuatan hakiki, mudah terpecah sesuai dengn pemikran dan kepentingan masing2. Maka people power bukan thoriqoh perubahan dan perjuangan.

Sedangkan the power of people, berarti kekuatan yang ada pada massa. Kekuatan apa yang dimiliki, itulah yang jadi amunisi. Bisa kekuatan materi, kekuatan jiwa, atau kekuatan ruh. Dan kekuatan ruh yang ada pada ummat, itulah kekuatan tertinggi. Ruh jihad, menolong agama Allah, meninggikan kalimat Allah, melanjutkan kehidupan islam, itulah yang akan mengalahkan segala kekuatan yang lain. Dan kekuatan ruh ini, sudah pasti hanya dimiliki orang yang senantiasa sadar hubungannya dengan Allah. 

Jika ada sekelompok ummat yang memiliki kekuatan ruhiyah, lalu berjuang, seraya menyempurnakan perjuangannya dengan kekuatan jiwa yang tidak takut mati, dan kekuatan materi dan militer dari ahlul quwwah yang mendukungnya, niscaya perjuangan akan menang dengan izin Allah. Walaupun jumlah kelompok ummat yang memiliki kekuatan tadi tidak sebanyak jumlah people power.

Alquran mencatat, kemenangan pasukan Thalut melawan Jalut adalah karena kekuatan ruhiyah yang tinggi, demikian pun peristiwa Hunain. Pada Allah lah segala kekuatan dan kekuasaan. Ditolong Allah adalah kunci kemenangan. Maka senantiasa berdoa minta tolong pada Allah, dan mengikuti thariqah perjuangan Rasulullah, untuk meraih kemenangan perjuangan.

Wallahu 'alam
By Ummu Syakira (Bogor 5/11/2016)

posting ini bermanfaat? bantu kami dengan klik like/share, syukron

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

artikel baru hari ini :

cari artikel ?. ketik dibawah ini