siapa yang patut di pertanyakan loyalitasnya, TNI apa Presiden RI ?

Ada yang menarik dari pernyataan Presiden Jokowi saat melakukan safari unjuk kekuatannya dengan menyambangi markas satuan-satuan khusus diantaranya Kopasus dan Marinir serta Korps Brimob Polri. 
Ferdinand Hutahaean

Presiden dengan kalimat yang terasa aneh bagi saya karena Konstitusi maupun UU tidak mengenal istilah Panglima Tertinggi namun yang ada adalah pemegang kekuasaan tertinggi. "Sebagai Panglima Tertinggi, saya harus memastikan semua loyal kepada negara." Begitulah kalimat yang kurang lebih diucapkan presiden saat kunjungannya.

Sangat menggoda kalimat tersebut meluncur dari seorang presiden. Dalam teori sebab akibat dan hukum Aksi Reaksi tentu akan muncul pertanyaan mengapa presiden mendadak perlu memeriksa loyalitas TNI kepada Negara? 

Adakah informasi yang ditangkap presiden bahwa TNI mulai tidak loyal kepada negara? Saya harus mengernyitkan dahi mencoba mencari alasan pembenaran dari pernyataan presiden tesebut dan berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan yang saya buat sendiri.

Sampai batas kemampuan mencari informasi dan data, saya tidak menemukan tanda-tanda bahwa TNI mulai tidak loyal kepada negara. Tidak ada informasi dan data tentang sikap dan perilaku TNI secara institusi maupun personal prajurit yang tidak loyal kepada negara. 

Tidak ada prajurit yang dicurigai sebagai mata-mata bangsa asing maupun diduga menjual informasi rahasia kepada bangsa asing. Loyalitas TNI kepada negara tidak diragukan sedikitpun. Sebagai insan yang dibentengi Sapta Marga dan menjadi Benteng Negara, semua prajurit TNI hampir bisa dipastikan bahwa loyalitasnya kepada negara adalah total tidak luntur sedikitpun.

Yang menarik dicermati adalah justru loyalitas presiden kepada negara. Presiden Yang telah mengucapkan sumpah sesuai konstitusi akan menjalankan undang-undang selurus-lurusnya dan akan melindungi segenap tumpah darah Indonesia sepertinya yang paling layak diragukan loyalitasnya kepada negara. Pelanggaran demi pelanggaran terhadap undang-undang kerap terjadi dan terakhir adalah mengangkat warga negara asing jadi menteri.

Keberpihakan presiden kepada bangsa dan negara juga sangat rendah. Serbuan tenaga kerja asing terutama dari Cina yang hampir tiap hari selalu menjadi perbincangan publik juga tidak kunjung diselesaikan oleh pemerintah pimpinan presiden Jokowi. Ada kesan pembiaran yang sangat kental dalam hal ini. 

Bahkan pemerintahan pimpinan presiden Jokowi harus mengimpor cangkul dari Cina, padahal industri ini kita punya. Mengapa saat ini sangat gencar aroma Cina menyebar disegala lini kehidupan berbangsa dan bernegara? Tentu ini terjadi karena adanya keberpihakan pada asing tersebut atau minimal keberpihakan itu ditunjukkan dengan cara pembiaran.

Ditambah dengan pelanggaran beberapa undang-undang seperti UU Minerba, maka akan menjadi jamak saja bagi kita sekarang bertanya tentang siapa yang tidak loyal kepada negara. Aksi tidak simpatik terhadap aksi 411 umat islam yang baru berlalu juga menambah deret pertanyaan. Negara ini adalah mayoritas Islam dan bangsa ini identik dengan Islam. Adakah negara ini akan berdiri tanpa umat Islam? Mungkin tidak. Dan mengapa presiden tidak menunjukkan loyalitasnya kepada Islam yang membentuk negara ini?

Sesungguhnya ada yang menggelitik diantara deret pertanyaan diatas. Mungkin presiden ingin memastikan TNI loyal kepada presiden sehingga kalimat itu dibuka dengan mengatakan Sebagai Panglima Tertinggi. Wajar memang jika TNI harus loyal kepada pemerintah atau presiden sepanjang pemerintah dan presiden bekerja untuk negara. TNI adalah alat negara dan bukan alat kekuasaan atau alat presiden.

Biarlah semua menjawab sendiri-sendiri, diantara loyalitas TNI dan loyalitas Presiden, siapa yang diragukan loyalitasnya atau memang tidak loyal kepada negara? Ataukah keduanya justru loyal kepada negara?
DIANTARA LOYALITAS TNI DAN LOYALITAS PRESIDEN, SIAPA YANG TIDAK LOYAL KEPADA NEGARA?
Jakarta, 15 Nopember 2016
Oleh : Ferdinand Hutahaean

repost via group whatsapp

artikel baru hari ini :

---------------------------------------------------------------------------
hanya dengan 5.000 rupiah donasi yang saudara/i berikan membantu kami
mewujudkan komputer khusus dakwah media ini

kirim ke no rekening bri 3343-01-023572-53-6 atas nama atri yuanda
atau ke paypal.me/atriyuanda

setelah transfer, informasikan ke kami dengan mengirim pesan
dengan format #nama#usia#asal daerah#jumlah donasi kirim ke 085362377198

total donasi masuk hingga hari ini telah terverifikasi sebesar Rp.1.920.000
total donasi yang dibutuhkan sebesar Rp.6.500.000
*program ini ditutup setelah dana pembelian komputer memadai*

pengen dialog santai, silahkan inbox kami. syukron

cari artikel ?. ketik dibawah ini